Pohon Serbaguna untuk Keberlanjutan Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa
Pohon Serbaguna untuk Keberlanjutan Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa

By Admin 09 Mar 2026, 13:00:06 WIB Kegiatan

Berita Terkait

Berita Populer

Pohon Serbaguna untuk Keberlanjutan Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa

Keterangan Gambar : (Foto bersama dengan warga desa setelah pembagian bibit alpukat dan nangka madu / Dok. Tim KKN 113 UNS)


Ketahanan pangan dan kesiapsiagaan bencana merupakan dua isu strategis yang saling berkaitan dalam pembangunan desa berkelanjutan. Di wilayah pedesaan yang memiliki kondisi topografi berbukit seperti Desa Clapar, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, ancaman tanah longsor pada musim hujan serta kekeringan saat musim kemarau menjadi tantangan nyata bagi keberlangsungan hidup masyarakat. Ketergantungan pada sektor pertanian menjadikan stabilitas lahan dan ketersediaan air sebagai faktor krusial dalam menjaga produktivitas pangan. Oleh karena itu, penguatan ketahanan pangan tidak dapat dilepaskan dari upaya konservasi lingkungan dan mitigasi bencana berbasis vegetasi.

Sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap permasalahan tersebut, kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 113 Universitas Sebelas Maret (UNS) di bawah bimbingan DPL Dr. Rokhmaniyah, M.Pd., mengusung tema “Ketahanan Pangan Mandiri dan Pengembangan Desa Siaga Bencana” melalui Program Pohon Serbaguna untuk Keberlanjutan Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa. Program ini diwujudkan dalam kegiatan sosialisasi pentingnya penanaman Multipurpose Tree Species (MPTS) yang dilaksanakan pada Kamis, 12 Februari 2026, bertempat di Balai Desa Clapar, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo.

Kegiatan sosialisasi ini terselenggara atas kolaborasi dengan Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VIII dan menghadirkan narasumber Dr. Mafut Munajat, S.Hut., M.IL., selaku Kepala Seksi Rehabilitasi dan Konservasi Sumber Daya Alam (RKSDA). Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa MPTS merupakan jenis pohon serbaguna yang tidak hanya menghasilkan produk pangan seperti buah, tetapi juga memiliki fungsi ekologis dalam menjaga stabilitas tanah dan tata air. Tanaman seperti alpukat dan nangka madu dipilih karena memiliki nilai ekonomi, kandungan gizi yang baik, serta sistem perakaran yang mampu memperkuat struktur tanah.

Pada konteks Desa Clapar, keberadaan pohon MPTS dinilai relevan sebagai solusi jangka panjang. Minimnya tutupan vegetasi permanen di beberapa titik lahan meningkatkan risiko erosi dan longsor. Penanaman pohon dengan perakaran kuat dapat membantu menahan partikel tanah, mengurangi limpasan air hujan, serta meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah. Dengan demikian, MPTS berperan sebagai benteng alami dalam mitigasi bencana sekaligus sebagai sumber pangan alternatif bagi masyarakat. Upaya ini menjadi bagian dari strategi desa siaga bencana yang tidak hanya responsif, tetapi juga preventif.

Program ini juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals / SDGs). Dalam SDGs poin 2 (Tanpa Kelaparan), penanaman MPTS mendukung terciptanya sistem pangan lokal yang beragam, bergizi, dan berkelanjutan. Pohon buah yang ditanam di pekarangan rumah dapat menjadi sumber pangan keluarga, mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pasar, serta meningkatkan kualitas konsumsi masyarakat. Pada poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim), penanaman pohon berkontribusi dalam penyerapan karbon dan pengurangan emisi gas rumah kaca. Sementara itu, pada poin 15 (Ekosistem Daratan), kegiatan ini mendukung rehabilitasi lahan, pencegahan degradasi tanah, serta peningkatan tutupan hijau desa. Secara tidak langsung, program ini juga berkontribusi pada poin 1 (Tanpa Kemiskinan) melalui peluang peningkatan pendapatan dari hasil panen buah serta poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat.

Sebagai bentuk implementasi nyata, kegiatan ini tidak hanya berupa pemaparan materi, tetapi juga aksi simbolis penanaman pohon alpukat di sekitar Balai Desa Clapar. Penanaman simbolis tersebut menjadi representasi komitmen bersama dalam menjaga lingkungan dan membangun ketahanan pangan mandiri. Selain itu, warga yang hadir memperoleh dua bibit tanaman, yaitu bibit alpukat dan bibit nangka madu, beserta pupuk untuk mendukung pertumbuhan awal. Antusiasme masyarakat terlihat dari partisipasi aktif dalam sesi diskusi dan komitmen untuk menanam serta merawat bibit yang telah dibagikan.

Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, program ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Penanaman MPTS bukan sekadar kegiatan penghijauan, melainkan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan desa. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai konservasi, ketahanan pangan, dan kesiapsiagaan bencana, Desa Clapar diharapkan mampu berkembang menjadi desa yang lebih tangguh, mandiri, dan berdaya saing.

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Universitas Sebelas Maret atas dukungan pelaksanaan KKN, kepada Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VIII atas sinergi dan kontribusi keilmuan, serta kepada Pemerintah Desa Clapar dan seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi aktif. Besar harapan bahwa program ini dapat memberikan manfaat jangka panjang dan menjadi inspirasi bagi desa-desa lain dalam membangun ketahanan pangan mandiri sekaligus memperkuat kesiapsiagaan terhadap bencana.

Penulis: Rachmadani Fitri Suciati




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment